AKU=KAU(my twin sister) part 1
Selengkapnya...
Dia menatapku tajam, tak berkedip. tatapan eyeliner hitam pekat di matanya dengan sapuan maskara hitam yang tebal. Wajahnya yang putih pecat tak tersenyum saat menatapku. Aku hanya diam saat kami berpapasan di tikungan koridor pemisah kelas 1 dan kelas 2. sedikitpun senyuman kecilpun tak di perlihatkan olehnya. dia lebih tinggi dariku. tubuhnya kurus dan tegap. bibirnya pink. sayang, sapuan putih pucat di wajahnya menamabah sedikit kesuraman saat melihat tatapannya. tapi jujur, jika dia tersenyum, wajah cantiknya benar benar terlihat alami. dia pantas sekali jika mengikuti acara miss "one night" di sekolah ini.
Aku menyunggingkan senyum kecilku saat bertatapan dengannya. tapi sesaat tatapan yang kulihat mengarah kesedihan yang tak dapat ku perlihatkan. dia seperti menangis. tapi tangisan yang tak terlihat. aku ingin berbicara padanya. karena setiap saat, setiap aku berangkat , dan setiap aku melewati tempat ini, aku melihat wajahnya yang putih pucat. seakan akan, ingin sekali aku merengkuhnya. Tapi, itu bukan hakku. Aku tak kenal dia. dia pun sama. Yang dapat ku pastikan saat ini, hanyalah, sosok wanita ini sering sekali datang saat aku membuka mata.
***
Violet adalah warna kesukaanku. Entah mengapa aku memilih warna ini menjadi warna kesukaanku. Padahal, aku lebih srek dengan warna biu di depanku. tapi, tanganku dan perasaanku berkata lain. Aneh, jika aku memikirkan hal tak sepenting ini.
Aku menghembuskan nafas lelah lalu tergeletak lemas di bangkuku. Wajah wanita itu terus terbayang di pikiranku. Anehnya, semua pikiranku di penuhi oleh raut wajahnya yang seperti itu. Dadaku tiba tiba sesak saat memikirkannya. Selalu seperti ini.
Aku memejamkan mataku sejenak. Ku buka mataku lagi. ku hembuskan nafasku beberapa kali. tapi tetap saja , dadaku masih sesak. Ku langkahkan kakiku keluar dari kelas. Ku hirup udara segar beberapa kali. Tanganku menyentuh dadaku yang bergerumuh aneh. Ku hirup nafas sedalam dalamnya. sedikit agak reda sesak ini.
"kau kenapa, araka?". Ku tatap wajah lelaki di sampingku
"aahhh.. nggak apa kok. hanya sedikit berisik di kelas." ujarku, beralasan.
"ohhhh..."
aku tersenyum kearahnya. Dadaku semakin sesak saja kali ini. memang tadi agak mereda. tapi sesak ini membuatku kehabisan nafas. Rasanya seperti tercekik.
"kau yakin, ka?". ujarnya menatapku, khawatir. aku bisa melihat raut wajahnya yang sangat khawatir ke arahku. Aku hanya mengangguk dan berlalu darinya. Tapi, dia malah mengikutiku.
"aku tak apa, aka!". bentakku, tiba tiba. Tatapan matanya beralih tanpa menatapku. Dia kaget sama denganku. Aku tak tahu mengapa aku bisa membentaknya seperti ini. Padahal, dia tak salah. Dia hanya mengkhawatirkanku saja.
"maaf". ujarku, menyesal
tatapannya kembali menatapku. Dia menyunggingkan senyumnya yang sering ku lihat. Rasanya sesakku semakin menjadi jadi. aku benar benar tak bisa bernafas kali ini. Aku menggenggam lengan aka yang ada di depanku. dia menatapku khawatir.
"kau tak apa, ka?. ka?". serunya menopang tubuhnya di tangannya.
"ss-sakit". aku terjatuh di pelukannya. Dan ku rasakan kedua lengannya memelukku sangat erat. Seakan akan tak ingin melepaskan pelukanku.
***
Tubuhku tergeletak lemas di tempat yang tak ku kenal. Di sekeliling tempat ini, dapat ku lihat tempelan tempelan gambar yang indah dan menarik. Lalu kulihat meja yang teratur dengan beberapa buku tentang aritmatika dan seni. Dinding dinding kamar ini bercat ungu tua yang indah. Ada banyak alat make-up di kamar sepetak 4x4. luas dan tenang saat menempati kamar ini. Tapi ada sesuatu yang membuatku mata berputar ke arah kiri. Aku melihat wajah aka dan aku di pigora itu. Tapi aku merasa wanita itu bukan aku. Wanita itu seperti seseorang yang berwajah pucat dan selalu ku temui di persimpangan itu.
Aku beranjak dari tempat tidur bergambar bintang malam yang bertaburan di langit violet. Ku lihat buku besar yang tertulis "my best friend and my story". Ada rasa ragu saat mebuka buku ini dengan lancang. tapi rasa penasaran ini memacu agar aku membuka isi buku itu. aku merasa di buku ini , ada cerita tentangku
ini dia yang aku suka. lelaki berperwakan tegap ini selalu menghiburku.rambutnya yang panjang terurai hingga ke lehernya. dan di tambah sedikit poni panjang di piak ke samping. tapi tak menutupi mata indahnya. style baju seragamnya yang di keluarkan, membuatku semakin ingin menatapnya. dia selalu membantuku saat semua orang mengejekku. dia adalah lelaki yang baik. namanya adalah "akaida andrada". tap lama kelamaan aku tahu perasaan ini mulai tumbuh besar. aku ingin mengutarakan perasaan ini. aku menyukainya. itu kata yang ada di hatiku dan menemani hari hariku.
20-02-2002
aku menembaknya di belakang sekolah. dia tersenyum dan mengacak rambutku dengan lembut. dia tersenyum ke arahku. hatiku masih berdebar debar. tapi debaran itu lama kelamaan berakhir. saat aku tahu alasan tentang senyum itu. alasan tentang semua perhatiannya padaku. AKU TAHU!. dia tak mencontaiku. dia hanya menganggapku teman. Dia menolakku!, aku sedih tapi aku masih mencintainya.
lidahku piluh. kakiku terasa kaku. kerongkonganku tercekat. Air mataku berair dan tak berhenti. buku ini basah karena tetesan air mataku. Aku menatap pigora sosok wanita mirip denganku. Di tangannya, aku meliha sesuatu yang terlingkar. bukan cincin tapi gelang dengan bandul lovee. aku punya gelang itu. Tapi aku benci memakai gelang yang serba violet. aku tahu mengapa, perasaan ini selalu memilih warna itu. Aku tahu. air mataku tak berhenti hingga aku mendengar suara teriakan kencang dari bawah. aku berlari mencari sumber teriakan itu.
Aku melihat seseorang wanita yang di pukul keras oleh seorang lelaki bertubuh besar. Aku berlari dan terdiam di tempat itu. tangisanku pecah saat aku melihat wanita itu. wanita itu di bunuh dengan beribu ribu tusukan pisau. aku ingin menolongnya tapi kakiku kaku.wanita itu berteriak dan kulihat lelaki itu dengan enteng menjatuhkan tubuh wanita itu ke lantai. Aku berteriak dan tubuhku terjatuh di mana darah wanita itu menggenang di seluruh lantai. Buku besar ini pun ikut tenggelam dalam darahnya. aku masih menangis dan memeluk bukunya. aku merangkak ke tubuh wanita yang kaku itu. Tatapan mata itu penuh dengan kesedihan.
"kumohon. bertahanlah!. aku akan memanggil bantuan!" teriakku mengangkat tubuhnya ke pangkuanku. "rekaa!!. kumohon!. bertahanlahh!!". teriakku mencium keningnya. tubuhku berlumur darah. Aku tak peduli. Yang ku inginkan hanya wanita ini untuk hidup. Aku menggoyangkan kepalanya, mencoba untuk emnahan darahnya yang keluar terus dari perutnya.
"jangan .. jangannn....". ujar penuh tangisan dengan memohon kepadanya agar dia tetap bertahan.
saat itu, yang kulihat tatapan sedihnya dan tatapan bencinya kepadaku. tiba tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekatiku.Dan tangan mencekik leherku. kemudian tubuhku di banting hingga kepalaku berdarah. setelah itu semuanya menjadi gelap. sebelum aku menutup mataku, aku melihat seseorang datang dan mengangkat tubuhku dengan lembut. kemudian kulihat dia melawan lelaki besar itu. dan aku mulai tahu lelaki dan bisikan suara itu. kemudian lenyap, hilang.
***
"ka. ka. ka.". aku mendengar suara lelaki tadi. suara itu sangat dekat di telingaku. Aku membuka matakun perlahan. kemudian, aku melihat mama dan papa berdiri di sampingku dengan wajah khawatir. kemudian aku mencoba menggerakan bola mataku ke kanan, aku melihat lelaki itu. aku sadar, aku pingsan saat dadaku sesak dan aku merasakan mimpi itu telah memberiku jawaban
"raka..." ujarku perlahan melihat sekeliling rumah sakit.
"ra-raka?". ujar aka , menatapku bingung.
"raka. raka. dimana raka, ma?. apa dia baik baik saja?". tanyaku langsung bangun dan menatap wajah mama.
"raka?. raka siapa, yang kau maksud, ka?". tanya mama datar. "raka itu ya raka. raka itu ya kamu. kamu tahu kan kamu raka?". tanya mama tertawa kecil.
"BUKAN!!" sentakku menatap kedua mata orang tuaku. "RAKA ZANASVERIUS!!" teriakku menyebut nama itu sangat keras.
aku bisa melihat wajah mereka semua berubah drastis. Dadaku kembali sesak saat menyebut nama itu. Aku merasa telah melakukan suatu kesalahan terhadapnya. nafasku terengah engah, tubuhku bergemetar. Rasanya sakit di sini. Aku tak tahu apapun soal RAKA!. tapi aku tahu raka memiliki keterkaitan denganku.
"ka, kamu harus istirahat, ya?, jangan berpikir yang aneh aneh." ujar aka lembut dengan menarikkan selimut menutup tubuhku. aku mengangguk dan ku rasakan dadaku semakin sesak. tapi aku tak berani mengatakan. hanya anggukan yang ku perlihatkan untuk mereka. Aku ingin sekali cepat kembali ke sekolah. aku ingin memastikan apa raka benar benar tak apa.
->>>> bersambung <<<<- - cuplikan selanjutnya -
Araka tahu kalau dia memeliki keterkaitan dengan wanita pucat yang sering ia temui. dia tahu juga wanita itu pernah dekat dengannta. dada sesaknya sakit bukan karena aka tapi rasa sakit wanita itu. dan saat araka mulai dekat dengan raka. dan raka menyunggingkan senyum bahagia ke arahnya. sayang... tiba tiba raka mengatakan kata kata aneh dan mengatakan " AKU BENCI DENGANMU!!!" kata kata yang menusuk. .. dan apa yang harus dia lakukan??...
Aku menyunggingkan senyum kecilku saat bertatapan dengannya. tapi sesaat tatapan yang kulihat mengarah kesedihan yang tak dapat ku perlihatkan. dia seperti menangis. tapi tangisan yang tak terlihat. aku ingin berbicara padanya. karena setiap saat, setiap aku berangkat , dan setiap aku melewati tempat ini, aku melihat wajahnya yang putih pucat. seakan akan, ingin sekali aku merengkuhnya. Tapi, itu bukan hakku. Aku tak kenal dia. dia pun sama. Yang dapat ku pastikan saat ini, hanyalah, sosok wanita ini sering sekali datang saat aku membuka mata.
***
Violet adalah warna kesukaanku. Entah mengapa aku memilih warna ini menjadi warna kesukaanku. Padahal, aku lebih srek dengan warna biu di depanku. tapi, tanganku dan perasaanku berkata lain. Aneh, jika aku memikirkan hal tak sepenting ini.
Aku menghembuskan nafas lelah lalu tergeletak lemas di bangkuku. Wajah wanita itu terus terbayang di pikiranku. Anehnya, semua pikiranku di penuhi oleh raut wajahnya yang seperti itu. Dadaku tiba tiba sesak saat memikirkannya. Selalu seperti ini.
Aku memejamkan mataku sejenak. Ku buka mataku lagi. ku hembuskan nafasku beberapa kali. tapi tetap saja , dadaku masih sesak. Ku langkahkan kakiku keluar dari kelas. Ku hirup udara segar beberapa kali. Tanganku menyentuh dadaku yang bergerumuh aneh. Ku hirup nafas sedalam dalamnya. sedikit agak reda sesak ini.
"kau kenapa, araka?". Ku tatap wajah lelaki di sampingku
"aahhh.. nggak apa kok. hanya sedikit berisik di kelas." ujarku, beralasan.
"ohhhh..."
aku tersenyum kearahnya. Dadaku semakin sesak saja kali ini. memang tadi agak mereda. tapi sesak ini membuatku kehabisan nafas. Rasanya seperti tercekik.
"kau yakin, ka?". ujarnya menatapku, khawatir. aku bisa melihat raut wajahnya yang sangat khawatir ke arahku. Aku hanya mengangguk dan berlalu darinya. Tapi, dia malah mengikutiku.
"aku tak apa, aka!". bentakku, tiba tiba. Tatapan matanya beralih tanpa menatapku. Dia kaget sama denganku. Aku tak tahu mengapa aku bisa membentaknya seperti ini. Padahal, dia tak salah. Dia hanya mengkhawatirkanku saja.
"maaf". ujarku, menyesal
tatapannya kembali menatapku. Dia menyunggingkan senyumnya yang sering ku lihat. Rasanya sesakku semakin menjadi jadi. aku benar benar tak bisa bernafas kali ini. Aku menggenggam lengan aka yang ada di depanku. dia menatapku khawatir.
"kau tak apa, ka?. ka?". serunya menopang tubuhnya di tangannya.
"ss-sakit". aku terjatuh di pelukannya. Dan ku rasakan kedua lengannya memelukku sangat erat. Seakan akan tak ingin melepaskan pelukanku.
***
Tubuhku tergeletak lemas di tempat yang tak ku kenal. Di sekeliling tempat ini, dapat ku lihat tempelan tempelan gambar yang indah dan menarik. Lalu kulihat meja yang teratur dengan beberapa buku tentang aritmatika dan seni. Dinding dinding kamar ini bercat ungu tua yang indah. Ada banyak alat make-up di kamar sepetak 4x4. luas dan tenang saat menempati kamar ini. Tapi ada sesuatu yang membuatku mata berputar ke arah kiri. Aku melihat wajah aka dan aku di pigora itu. Tapi aku merasa wanita itu bukan aku. Wanita itu seperti seseorang yang berwajah pucat dan selalu ku temui di persimpangan itu.
Aku beranjak dari tempat tidur bergambar bintang malam yang bertaburan di langit violet. Ku lihat buku besar yang tertulis "my best friend and my story". Ada rasa ragu saat mebuka buku ini dengan lancang. tapi rasa penasaran ini memacu agar aku membuka isi buku itu. aku merasa di buku ini , ada cerita tentangku
ini dia yang aku suka. lelaki berperwakan tegap ini selalu menghiburku.rambutnya yang panjang terurai hingga ke lehernya. dan di tambah sedikit poni panjang di piak ke samping. tapi tak menutupi mata indahnya. style baju seragamnya yang di keluarkan, membuatku semakin ingin menatapnya. dia selalu membantuku saat semua orang mengejekku. dia adalah lelaki yang baik. namanya adalah "akaida andrada". tap lama kelamaan aku tahu perasaan ini mulai tumbuh besar. aku ingin mengutarakan perasaan ini. aku menyukainya. itu kata yang ada di hatiku dan menemani hari hariku.
20-02-2002
aku menembaknya di belakang sekolah. dia tersenyum dan mengacak rambutku dengan lembut. dia tersenyum ke arahku. hatiku masih berdebar debar. tapi debaran itu lama kelamaan berakhir. saat aku tahu alasan tentang senyum itu. alasan tentang semua perhatiannya padaku. AKU TAHU!. dia tak mencontaiku. dia hanya menganggapku teman. Dia menolakku!, aku sedih tapi aku masih mencintainya.
lidahku piluh. kakiku terasa kaku. kerongkonganku tercekat. Air mataku berair dan tak berhenti. buku ini basah karena tetesan air mataku. Aku menatap pigora sosok wanita mirip denganku. Di tangannya, aku meliha sesuatu yang terlingkar. bukan cincin tapi gelang dengan bandul lovee. aku punya gelang itu. Tapi aku benci memakai gelang yang serba violet. aku tahu mengapa, perasaan ini selalu memilih warna itu. Aku tahu. air mataku tak berhenti hingga aku mendengar suara teriakan kencang dari bawah. aku berlari mencari sumber teriakan itu.
Aku melihat seseorang wanita yang di pukul keras oleh seorang lelaki bertubuh besar. Aku berlari dan terdiam di tempat itu. tangisanku pecah saat aku melihat wanita itu. wanita itu di bunuh dengan beribu ribu tusukan pisau. aku ingin menolongnya tapi kakiku kaku.wanita itu berteriak dan kulihat lelaki itu dengan enteng menjatuhkan tubuh wanita itu ke lantai. Aku berteriak dan tubuhku terjatuh di mana darah wanita itu menggenang di seluruh lantai. Buku besar ini pun ikut tenggelam dalam darahnya. aku masih menangis dan memeluk bukunya. aku merangkak ke tubuh wanita yang kaku itu. Tatapan mata itu penuh dengan kesedihan.
"kumohon. bertahanlah!. aku akan memanggil bantuan!" teriakku mengangkat tubuhnya ke pangkuanku. "rekaa!!. kumohon!. bertahanlahh!!". teriakku mencium keningnya. tubuhku berlumur darah. Aku tak peduli. Yang ku inginkan hanya wanita ini untuk hidup. Aku menggoyangkan kepalanya, mencoba untuk emnahan darahnya yang keluar terus dari perutnya.
"jangan .. jangannn....". ujar penuh tangisan dengan memohon kepadanya agar dia tetap bertahan.
saat itu, yang kulihat tatapan sedihnya dan tatapan bencinya kepadaku. tiba tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekatiku.Dan tangan mencekik leherku. kemudian tubuhku di banting hingga kepalaku berdarah. setelah itu semuanya menjadi gelap. sebelum aku menutup mataku, aku melihat seseorang datang dan mengangkat tubuhku dengan lembut. kemudian kulihat dia melawan lelaki besar itu. dan aku mulai tahu lelaki dan bisikan suara itu. kemudian lenyap, hilang.
***
"ka. ka. ka.". aku mendengar suara lelaki tadi. suara itu sangat dekat di telingaku. Aku membuka matakun perlahan. kemudian, aku melihat mama dan papa berdiri di sampingku dengan wajah khawatir. kemudian aku mencoba menggerakan bola mataku ke kanan, aku melihat lelaki itu. aku sadar, aku pingsan saat dadaku sesak dan aku merasakan mimpi itu telah memberiku jawaban
"raka..." ujarku perlahan melihat sekeliling rumah sakit.
"ra-raka?". ujar aka , menatapku bingung.
"raka. raka. dimana raka, ma?. apa dia baik baik saja?". tanyaku langsung bangun dan menatap wajah mama.
"raka?. raka siapa, yang kau maksud, ka?". tanya mama datar. "raka itu ya raka. raka itu ya kamu. kamu tahu kan kamu raka?". tanya mama tertawa kecil.
"BUKAN!!" sentakku menatap kedua mata orang tuaku. "RAKA ZANASVERIUS!!" teriakku menyebut nama itu sangat keras.
aku bisa melihat wajah mereka semua berubah drastis. Dadaku kembali sesak saat menyebut nama itu. Aku merasa telah melakukan suatu kesalahan terhadapnya. nafasku terengah engah, tubuhku bergemetar. Rasanya sakit di sini. Aku tak tahu apapun soal RAKA!. tapi aku tahu raka memiliki keterkaitan denganku.
"ka, kamu harus istirahat, ya?, jangan berpikir yang aneh aneh." ujar aka lembut dengan menarikkan selimut menutup tubuhku. aku mengangguk dan ku rasakan dadaku semakin sesak. tapi aku tak berani mengatakan. hanya anggukan yang ku perlihatkan untuk mereka. Aku ingin sekali cepat kembali ke sekolah. aku ingin memastikan apa raka benar benar tak apa.
->>>> bersambung <<<<- - cuplikan selanjutnya -
Araka tahu kalau dia memeliki keterkaitan dengan wanita pucat yang sering ia temui. dia tahu juga wanita itu pernah dekat dengannta. dada sesaknya sakit bukan karena aka tapi rasa sakit wanita itu. dan saat araka mulai dekat dengan raka. dan raka menyunggingkan senyum bahagia ke arahnya. sayang... tiba tiba raka mengatakan kata kata aneh dan mengatakan " AKU BENCI DENGANMU!!!" kata kata yang menusuk. .. dan apa yang harus dia lakukan??...
