Selasa, 15 Maret 2011

loVE story =g ive me your love, oppa!

dia menatapku sangat tajam di pinggir lapangan. aku tak tahu apa salahku. aku mengalihkan pandanganku saat dia berjalan ke arahku. pandanganku terus ke samping kanan saat langkahnya mulai mendekatiku.
"maumu apa?". ujarnya menatapku. aku tak menjawab pertanyaannya. aku tetap memalingkan pandanganku dari arahnya. "der.. maumu apa?". ujarnya menarik tanganku sangat kasar.
"apa?" ujarku menatapnya dengan malas. kemudian aku kembali menatap ke samping , tanpa memperhatikannya.
ak bisa mendengar hembusan nafas kesalnya. tangannya melepas tanganku kemudian berjalan ke luar sekolah. Aku terdiam di pinggir lapangan, kemudian duduk di pertepian lapangan bersama dua sahabatku. aku tahu mereka ingin menanyakan hubunganku dengan lelaki ini. tapi mereka tak mengatakannya, mereka diam karena mereka tahu, aku perlu memikirkan ini sendirian.
tanganku mengepal erat saat melihat seorang wanita di depanku. tapi aku bisa menahannya, aku harus bisa melupakan masalah kemarin. Meski aku tahu dia adalah mantannya yang selalu mengejekku karena sifatku seperti ini

***
#flash back #

hujan kembali datang saat malam hari, langit tampak gelap saat jendela ini membatasi penglihatanku. aku memeluk tubuhku, merasa seakan dingin ini mulai membunuhku. aku membuka pintu depan kemudian melihat hujan ini turun dengan deras. aku menghela nafas lelah lalu memeluk tubuhku lagi dengan merapatkan jaket yang ku pakai di tubuhku ini.

aku melihat sorot lampu kuning memecah hujan di malam hari. lalu ku lihat seorang lelaki turun dari mobil. aku tersenyum saat dia menyadariku di sini. tapi yang kulihat, hanya tatapan dinginnya. tatapan yang sering kulihat dan mungkin akan membuatku menderita seumur hidup.

"opppaa...!!" teriakku dengan keras. dia menatapku sejenak lalu memberi tatapan sinis ke arahku. aku lupa, dia adalah pacarku. tapi aku tak tahu apapun yang dia suka. padahal kami sudah dekat sejak kecil. iya. sejak aku pindah dan terus bermain di rumahnya. dan aku senang, meski kami tak layak menjadi pasangan, aku bisa melihatnya terus di sini. karena rumah kami berdekatan sejak kami berumur 6 tahun. aku tertawa kemudian aku memanggilnya dengan keras, melebihi suara rintikkan hujan yang deras ini.

senyumku hilang saat dia berjalan ke rumahnya tanpa menghiraukanku. aku berharap punggungnya yang sedikit basah itu bisa menoleh ke arahku dan memberi senyum itu untukku.
sayang, senyuman itu semakin hilang bersama dengan hujan yang terus turun tanpa menghiraukan tangisanku. aku terus menangis meski hujan juga semakin redah.

***
aku melepas bajuku yang basah ini. kemudian menaruhnya di mesin cuci. aku mengambil susu hangat yang tadi kubuat lalu meminumnya. mataku menatap lurus ke luar jendela. aku bisa melihat kamarnya di mataku. dan aku juga bisa melihat wajahnya yang menangis di depan rumahnya.

jujur aku tak ingin melihatnya seperti ini. tapi aku tak bisa membohongi perasaanku yang gundah ini. sekejap perasaan ini selalu berubah saat aku bertemu wnaita lain. dan rasanya sakit saat dia menangis seperti ini. jadi, aku masih tak bisa memutuskan apa yanga da dalam hatiku ini.
***

pagi ini, aku membiarkan rambutku terkuncir samping lalu dengan memakai kaos kaki merah dengan corak boneka bear. kemudian aku menaruh pernak pernik boneka kecil menjadi pin di seragam dan melonggarkan dasiku.

"amma.. aku berangkatt!" ujarku langsung mengambil roti dari tangan kakakku. kemudian lari menjauhi omelan kakakku. aku melihat mobil hitam masih terparkir di depan rumahnya. itu kemungkinan, dia belum berangkat sekolah. aku menunggunya hongga keluar. aku ingin memberi rotiku kepadanya.

semenit kemudian dia keluar dari rumahnya. aku senang sekali saat dia berjalan dengan gaya seperti itu. ya. dia berjalan seperti lelaki bertampang sinis. aku tersenyum ke arahnya dan mengulurkan tanganku untuk memberinya roti isi blackurrent.
"oppaa.. ini" ujarku menyerahkan roti itu untuknya.
aku tak melihat reaksinya yang dingin itu. dia pun tak mengambil roti dari tanganku. dia hanya berjalan tanpa menghiraukanku.
aku merenggut sedih saat dia mulai seperti ini. aku terus memaksanya hingga yang terjadi, dia menjatuhkan rotiku.

"ehh..." seruku dengan menatap roti yang jatuh ke tanah" jatuhh". seruku, menyesal.
"aku tak mau makan rotimu". ujarnya dengan menatapku sinis
aku terdiam saat dia mengatakan seperti itu. tapi, omongan ini sudah terbiasa untukku. aku memungguti roti yang jatuh dan membuangnya ke sampah lalu aku tersenyum ke arahnya.
"oppa! hwaitiiing!" teriakku dnegan melambaikan tanganku sampai mobilnya menghilang.
kemudian senyumku menghilang saat mobilnya juga menghilang. aku tersenyum lemas kemudian melangkah ke sekolah. padahal aku berharap kita bisa berangkat ke sekolah bersama. atau hanya dengan tersenyum ke arahku.
***
aku hampir telat tadi. tapi semua itu dapat ku akali. karena satpam di sekolahku mulai terbiasa dengan ancama yang datang di mulutku.
sekarang jam istirahat dan aku ingin melangkahkan kakiku ke kelasnya.
kakiku terhenti saat aku melihat wanita yang cantik sangat dekat dnegannya. aku menghampiri mereka.
"oppa!" seruku langsung dengan nada keras. semua orang melihat ke arahku. aku tak peduli. aku benar benar tak ingin melihatnya sangat dekat dengan soo hyun oppa. mereka berdua melihatku tapi aku bisa melihat tatapan sinis dan benci soo hyun oppa kepadaku.
"haii" ujar wanita itu sok ramah dengan menyunggingkan senyumnya ke arahku
"aku tak perlu keamahnmu!" ujarku, sinis ke arahnya
"ikut aku!" ujar soo hyun oppa menarik tanganku sangat kasar
"Aku nggak mau" seruku dengan menarik tanganku dari cengkramman kasarnya. dan saat itu, aku tak sengaja menunpahkan cat ke poster di bawahnya. yang ku tahu, poster itu sangat penting untuk kelas ini. karena poster itu adalah poster lomba hari ini. aku terdiam membeku dan tak tahu harus mengatakan apapun
"oppa miann..." sesalku kemudian yang ku lihat hanya tatapan bencinya ke arahku.
"pergi" ujarnya.
"oppa.."
"pergi , aku bilang!" bentaknya ke arahku kemudian aku langsung keluar dari kelasnya.

seharusnya aku tak membuatnya menjadi seperti ini. dan seharusnya, aku bisa menahan rasa cemburuku ini ke arahnya. aku terdiam dan menahan tangis di taman belakang. aku menyandarkan punggungku ke batang pohon di belakang
"miaaannn" ( di iring lagu key shine-embrace soul)

jeo bitbangure bichin maeul geurimja maemdolmyeon
jamdeun neoui gin nunsseop areumdapge geurimyeo deuriuneun i achime
daechung saldeon sarm jocha biuseotdeon nainde
neoui simjang sorineun nae sarmui sigyedoeeo oneureul tto salgo isseo
"mian oppa" gumamku
siteuui pado saireul
tteodoneun urin du gaeui jageun bae
oseul beoseo noheun chae keobe keopireul ttaranoko

naui yeonghoneul gamssa anajwo
dosi soge muldeureo beorin naui gaseum sok eollukjin heunjeok
neoui sontobeuro da jiwojwo
naui yeonghoneul gamssa anajwo
ojik nae jasinman saranghadeon igijeogeuro
je meotdaero saldeon naega neoui pume angige

gangnyeolhaesseotdeon yeoreum huin moraewa neoui Kiss
deowimajeo sarajyeo tumyeonghaejin gaeure namgyeojin geon
sarang ppunar
***
aku menatap punggunya seusai pulang sekolah. aku berjalan mengikutinya di belakang dengan sembunyi sembunyi. ku langkahkan kakiku secepat mungkin tapi tak membuatnya menyadari langkahku.

kami terhenti di ruang osis. aku meliha soo hyun oppa memasuki ruang itu. aku mengintip sedikit celah dari jendela yang tak di tutup. ku dnegar dengan berhati hati agar mereka tak menyadari kedatanganku

"maaff. ini salahku." aku bisa mendengar suara so hyuun oppa dengan nada lemas. ini memang slaahku!
"maaf?. udah gak sempat lagi , soo hyun!. kamu tahu, besuk poster ini sudah harus kita serahkan!" ujar seorang lelaki yang bisa di katakan ketua osis.
"sudahlah. smeua ini juga sudah terjadi. sudaahh. nggak usah di sesalin." seru seorang lelaki yang ku kenal. iya. itu dia!. dia key oppa!. aku bisa minta bantuan dari dia.

setelah rapat usai, aku menyempatkan untuk datang ke ruang sekertariat osis. aku melihat lelaki yang serius mengetik laptop di depannya.
"oppa" sahutku, pelan.
"ehh.. kau dar?. ada apa?" ujarnya dengan melepas kaca matanya
"aku..." aku melangkahkan kakiku mendekati bangku kerjanya.
"minta maaf?" tebaknya yang selalu tepat. aku mengangguk lalu menggigit bibir bawahku karena takut untuk menagtakannya " gweencana,darla. ini juga sudah terjadi. nggak usah di sesali, oke?" serunya lembut dengan menepuk kepalaku dnegan pelan
"geureo. tapii..."
"tapi apa?"
"aku ingin membantu so hyun oppa." ujarku dengan menatap lurus ke bawah lalu dengan berani menatap matanya yang tersenyum manis.
"teruss?"
"aku ingin minta bantuan oppa" seruku dengan memohon
"euhhmm. geureo.. aku akan membantumu." aku etrsenyum kearahnya dan dengan langsung berlari lalu memeluknya
"gomawo oppa" seruku lalu melepaskan pelukanku kemudian melenggang pergi dari ruangannya
akhirnya, aku bisa membuat soo hyun oppa tak membenciku lagi
****
jujur, aku melihatnya memeluk key hyung. tapi mengapa hatiku tiba tiba panas saat melihatnya seperti itu. apalgi melihat senyumnya yang senang saat memeluk lelaki itu. padahal, smeenjak kami berpacaran 9 tahun yang lalu, aku tak pernah menatapnya sebahagia itu. tapi kali ini, senyumnya ke orang lain itu, malah membuatku hatiku panas.

aku mengambil mobil di parkiran lalu melihat key hyung berjalan ke mobilnya.
"hyuung" tegurku dengan ramah.
"eh soo hyun. kau belum pulang?" tanyanya dengan tersneyum kearahku
"iya. setelah hyung mau kemana?"
"ohh. aku mau ada acara. aku pergi dulu, ya". serunya dengan masuk ke dalam mobilnya.
"apa hubunganmu dengannya, hyung" gumamku, menatapnya saat dia mulai melajukan mobilnya menjauhiku.

aku menghela nafas lelah lalu masuk ke dalam mobil. aku melajukan mobilku sangat cepat. sepertinya, aku tak melihat wajah darla hari ini. apa mungkin karena bentakkanku terlalu keras ke dia. aku terus melajukan mobil hingga aku berhenti di depan rumahku. aku membukanya lalu ku lihat mobil hitam alphert terparkir di rumahnya. dan yang lebih membuatku terkejut, plat nomor mobil itu sangat ku kenal.
"bukankah itu key hyung?" gumamku dengan menutup mobil. aku terdiam lalu menatap rumahnya lurus. dan kemudian aku merasakan hatiku semakin panas.

aku masuk ke dalam kamar lalu membanting tas sekolahku sangat keras ke tempat tidur. aku menatap rumahnya dengan kesal. ingin sekali aku ke rumahnya dan bertanya sesuatu pada darla. tapi, aku hanya bisa diam. dan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

***
"lalu apa rencanamu untuk poster yang telah kau rusak ini?" ujarnya dengan menyendekapkan tangannya. aku memelototinya dengan kesal tapi kemudian terdiam karena semua ini adalah ulahku.
"Aku tahu oppa. tenanglahh" serukku dengan mengambil cat itu. aku mengerjakan ini sampa malam. aku tak bisa tidur. karena dalam pikiranku, hanya ada dia . ***

pagi hari, aku benar benar menyelesaikannya. dan saat itu, key oppa bangun dan terkejut apa yang telah kulakukan.
"apa ini?"
"jelek ya oppa?" seruku dengan menggigit bibir bwahku,
"nggaklah. malah bagiku ini adalah karya yang sangat keren" serunya dengan menepuk bahuku
"chukkah hamida" bisiknya tepat di telingaku. wajahku langsung memerah saat key oppa melakukan itu kepadaku. dia bangun dari sofanya lalu mengambil kunci di sampingku
"apa yag kau tunggu?. ayoo."serunya, membuatku terbangun dari lamunanku.
"ahh iya". seruku lalu membwa poster itu kemudian naik ke mobilnya. semalam dia menginap di rumahku. kami mengerjakan poster ini semalaman. dan hasilnya benar benar memuaskan.

aku tertawa berdua di mobil. tapi tiba tiba di tengah tawa kami, aku melihat seorang lelaki menatapku sangat tajam. tatapan yang tak pernah ku lihat sebelumnya. dan sepertinya, dia memang membenciku. kakiknya menuju ke mobil kami. aku hanay terdiam di dalam mobil.
"hyuungg"sapanya ke soo hyun oppa
"haii.. kami mau berangkat ke sekolah. kamu juga, kan ?"
"iya." jawabnya dengan menatap mataku sangat tajam. aku hanya terdiam dan tak berani menatap matanya. sepertinya dia memang sangat marah padaku.
"kalau begitu, kami berangkat duluan, ya?" seru key dengan melambaikan tangan ke soo hyun oppa. aku menatap matanya sekilas saat mobil ini melaju. tatapan ini yang benar benar membuatku takut. aku tak suka melihatnya seperti ini.
***

aku sampai di sekolah. hati ini benar benar panas. sudah ku duga, mereka punya satu ikatan di belakangku. tapi mengapa harus hyung?. apa maksudnya?. aku mengepalkan tanganku sangat erat. setelah ini juga, acara lomba poster akan di mulai. dan posternya benar benar rusak.
"bagaimana ini?" ujarku, bingung
"tenanglah. ini..." seru key hyung tiba tiba di belakangku
"ehh.. hyuungg. ini..." seruku dengan melihat poster yang rusak menjadi poster yang bagus luar biasa.
"iyya.. jadi tenanglah". srunya menepuk bahuku.
aku tenang tapi hatiku tak bisa. apalagi mengingat kejadian kemarin malam. rasanya, aku ingin bertanya, apa yang terjadi di antara mereka berdua. tapi rasanya, kerongkonganku terasa tercekat.

acarapun di mulai. aku mempresentasikan hasil usahaku. dan hasilnya kami mendapat juara 1. aku tersenyum tenang lalu senyumanku menghilang saat ku lihat senyumannya datang bukan untukku tapi seseorang yang tadi menolongku
"oppaa!. shukkah hamida, ya?" serunya memberi selamat ke key hyung
"iyya. gomawoo" ujarnya menepuk kepalanya dengan lembut
"hahha,, iyya oppa. ini juga karena oppa juga kan?" serunya dengan tertawa senang. aku melihatnya dan rasanya aku ingin menarik tangan itu dari key hyung. aku benci saat dia mengatakan seperti itu ke cowok lain.
"ehh..oppa. gimana kalau kita merayakannya?" serunya dengan tersenyum senang. kakiku tak bisa menahan lagi. entah kenapa kakiku melangkah cepat ke arahnya dan menarik tangannya sangat kasar. dan aku juga bisa melihat wajahnya meringis kesakitan saat aku menariknya.
"oppaa!. lepas!" bentaknya mencoba melepaskan tangannya. tapi, aku semakin mempererat cengkramanku hingga aku melepaskannya di tman belakang. aku menghimpitnya di tembok dan mencium bibirnya dengan kasar.

"stooopppp!" serunya dengan mendorong keras tubuhku.
" apa?. kau senangkan mendapatkan ini?". kataku kasar ke arahnya.
"mak-maksudmu?" katanya dengan menahan tangis. aku bisa melihat tangisannya dari kelopak matanya.
"kau tak perlu bohong, bodoh!!" teriakku mendorong tubuhnya ke dinding. aku benar benar marah apa yang kulihat kemarin. aku tak bisa mengontrol kemarahanku
"kau brengsek oppa!!" teriakknya mendorong tubuhku sangat kasar
"terserah" seruku dengan meninggalkannya sendiri di belakang.
***
aku terdiam dengan memeluk tubuhku dan menangis untuk membencinya. ku dengar suara langkah mendekatiku. yang kulihat adalah wavah key oppa di depanku. dia memeluk tubuhku dengan sangat erat.
"lupakan dia, dar" gumamnya lembut masih memelukku.
aku tak menjwab. tapi memang benar, aku harus melupakannya. karena selama ini, aku hanya bisa menderita. tapi jujur, aku benar benar tak bisa menghilangkan perasaan ini.

Tidak ada komentar: